Hitam Putih Kampus III UIN IB Padang

Padang, DKTV– Awal mula berdirinya Kampus III UIN Imam Bonjol Padang, Sungai Bangek ialah akibat dari terjadinya gempa besar pada 30 September 2009, yang melanda Kota Padang Sumatera Barat.

Gempa tersebut menyebabkan kerusakan parah pada beberapa bangunan sekitar kota Padang, termasuk Kampus UIN yang berada di Lubuk Lintah. Sehingga mahasiswa dan dosen terpaksa berkuliah di bawah tenda. Pertanyaan diberikan dalam Kanal YouTube DKTV UIN Iman Padang yang bertajuk “Pahlawan dari Hitam putihnya Kampus 3 UIN Imam Bonjol Padang”

Situasi ini mendorong pihak Universitas mencari solusi untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih memadai. Salah satu langkah penting adalah memindahkan kampus ke lokasi baru ke Sungai Bangek.

Proses relokasi ini bermula pada tahun 2009, saat Rektor UIN Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A menunjuk Wakil Rektor III Prof. Dr. H. Salmandanis, MA sebagai ketua panitia Pengadaan tanah.

Awalnya ia enggan menerima tugas tersebut, karena menurutnya hal tersebut merupakan tanggung jawab yang sangat besar.

Klik Untuk Follow IG Kaba Kampus.

“Setelah istikharah dan dukungan dari berbagai pihak, saya akhirnya menerima amanah ini,” kenangnya. pada saat

Setelah itu, Langkah awal Salmandanis mencari dana untuk pengadaan tanah relokasi. hingga mendapat dana dari APBD dan APBN, ternyata dana tersebut tidak cukup. Tapi dengan dukungan Komisi IX DPR RI saat itu, akhirnya tim mendapatkan dana tambahan.

“Dengan dukungan Komisi IX DPR RI, akhirnya tim mendapatnya dana perubahan dari Kementerian PPN/Bappenas. Sebesar Rp. 35 miliar,” ujarnya.

Setelah itu, Salmandanis beserta tim, mencari tanah strategis untuk membangun kampus. Beberapa lokasi yang menjadi kandidat seperti Limau Manis, Kuranji, Lubuk Minturun dan Air Dingin mereka survei. Sehingga terpilihlah Sungai Bangek menjadi tempat berdirinya kampus 3.

Lokasi Sungai Bangek.

Kenapa Sungai Bangek? Sebab, Sungai Bangek memenuhi beberapa kriteria, seperti : tanah yang luas tanpa batasan kampung, aksesibilitas yang bisa dikembangkan, serta dukungan masyarakat setempat.

“Juga Sungai Bangek, yang sebelumnya dikenal sebagai tempat rawan aktivitas negatif, dianggap tepat untuk diubah menjadi kawasan pendidikan,” lanjutnya.

Lalu tim melakukan dialog dengan tokoh masyarakat dan pemerintah setempat terkait tujuan mereka, dan panitia berhasil mendapat persetujuan untuk membeli 61,2 hektare tanah dari 33 pemilik dengan total biaya Rp19 miliar.

Baca juga: Wisata Religi Pesona Masjid Agung Raja Hamidah di Kota Batam.

“Dana yang tersisa sekitar Rp16 miliar kami kembalikan ke negara pada akhir tahun 2010,” jelasnya.

Dukungan dari pemerintah kota turut mempercepat pembangunan infrastruktur dasar. Saat itu, masa kepemimpinan Wali Kota Fauzi Bahar dan Buya Mahyeldi, jalan menuju kawasan kampus diaspal dan pembangunan jaringan listrik sudah dimulai .

Mulai mendesain rancangan detail kampus, yaitu masjid, gedung rektorat, dan berbagai fasilitas lain.

“Masih banyak yang harus kita bangun, seperti lapangan olahraga, perumahan dosen, dan fasilitas mahasiswa,” tambahnya

Proses pembangunan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah UIN Imam Bonjol Padang. Perjuangan panjang relokasi kampus dari Lubuk Lintah ke Sungai Bangek merupakan harapan besar untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik.

Hingga saat ini, pembangunan terus berlanjut hingga kepemimpinan rektor berikutnya. Dengan cita-cita menjadikan kampus baru ini sebagai pusat pendidikan Islam modern yang representatif dan inspiratif bagi generasi mendatang.

Wartawan : Pajri Husnul Hotima dan Yasyifa Sayyida.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *