Padang, DKTV– Di antara deretan cabang perlombaan yang digelar pada ajang Dekan Cup, Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) menjadi salah satu sorotan utama. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan bacaan murattal menggema di ruang perlombaan.
Tak hanya sekadar kompetisi, MHQ menjadi panggung syiar Al-Qur’an di tengah hingar-bingar perlombaan antarjurusan yang digelar Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA), UIN Imam Bonjol Padang.
Klik untuk Follow IG Kaba Kampus.
Di balik lancarnya pelaksanaan lomba MHQ, terdapat kerja keras dan persiapan matang dari panitia, khususnya Milti Julinesti selaku penanggung jawab cabang lomba.
Ia menjelaskan bahwa persiapan lomba MHQ tidak jauh berbeda dari lomba-lomba lainnya. Namun, karena berkaitan langsung dengan Al-Qur’an, tentu perlu persiapan matang, baik dari segi teknis pelaksanaan, kesiapan tempat, hingga koordinasi panitia.
Ia juga menyampaikan bahwa tantangan dalam pelaksanaan MHQ lebih pada hal-hal teknis, seperti menyampaikan informasi secara cepat dan akurat kepada peserta serta dewan juri. “Sebagai panitia, kami harus selalu sigap dan update informasi agar tidak terjadi miskomunikasi,” lanjutnya.
Meski begitu, Milti menegaskan bahwa kendala yang dihadapi tidak terlalu besar. Kolaborasi antar panitia, juri, dan peserta berjalan cukup baik. Kendala kecil seperti keterlambatan penyampaian informasi akibat perubahan mendadak dapat diatasi dengan komunikasi intensif dan koordinasi cepat.
“Langkah yang kami ambil jika terjadi masalah adalah dengan menghubungi SC, koordinator lomba, atau rekan panitia lainnya. Evaluasi pun dilakukan agar ke depan penyelenggaraan bisa lebih baik lagi,” ujar Milti.
Pelaksanaan lomba MHQ ini cukup unik. Peserta diberikan tiga soal berupa sambung ayat oleh dewan juri. Setelah juri membacakan potongan ayat, peserta diminta melanjutkannya hingga batas waktu yang ditentukan. Penilaian berfokus pada tiga aspek penting: hafalan, tajwid, dan fashahah.
Tidak seperti cabang lomba lainnya, MHQ tidak memiliki babak penyisihan atau final. Setelah semua peserta tampil, juri langsung merekap nilai akhir berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
Jumlah peserta lomba MHQ tahun ini berjumlah enam orang, terdiri dari mahasiswa laki-laki dan perempuan dari berbagai jurusan di FUSA, seperti Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) dan lainnya.
Dari sisi konsep, tidak ada perbedaan signifikan antara Dekan Cup 2025 dengan tahun sebelumnya. Mahasiswa FUSA tetap menunjukkan antusiasme tinggi dalam berpartisipasi. Perbedaannya hanya pada beberapa jenis lomba baru yang ditambahkan dalam pelaksanaan tahun ini.
Untuk mendukung kualitas penilaian, dewan juri dalam lomba MHQ berasal dari kalangan internal dan eksternal kampus. Salah satu juri utama bahkan merupakan dosen yang berpengalaman di bidang tahfizh dan tajwid.
Baca juga: Lomba Kaligrafi, Seni Menulis Ayat Al-Qur’an diatas Kertas.
Pemenang lomba MHQ dan cabang lainnya akan diumumkan pada hari Sabtu mendatang, bersamaan dengan penutupan resmi Dekan Cup FUSA 2025. Mereka akan mendapatkan penghargaan berupa piala, tabanas, dan sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang diraih.
Di akhir, Milti menyampaikan harapannya agar Dekan Cup 2025 menjadi ajang pembelajaran dan pengembangan diri bagi seluruh mahasiswa FUSA. “Kami ingin mahasiswa punya keberanian untuk menampilkan bakat mereka, percaya diri dalam berkompetisi, dan mampu menyumbang prestasi terbaik untuk fakultas dan kampus tercinta,” pungkasnya.
Wartawan: Pricilia Mutiarani, Della Br Gultom (Mg), dan Naila Muthmainnah (Mg)
