Padang, DKTV- Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Komunikasi Penyiaraan islam mengadakan perlombaan broadcasting, salah satu cabang perlombaannya yakni Presenter dilaksanakan di Aula Fakultas Saintek pada sabtu.(8/11)
Salah satu dosen Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Imam Bonjol Padang Syafira natasya M.I.Kom menjadi juri pada ajang Broadcasting Competition.
Klik Untuk Follow Instagram Kaba Kampus
Syafira juga menjelaskan bahwa lomba seperti Broadcasting Competition sangat penting bagi mahasiswa. Melalui ajang ini, mahasiswa dapat menerapkan teori yang telah mereka pelajari di bangku kuliah secara langsung terutama mahasiswa KPI.
“Mahasiswa KPI nantinya berpeluang menjadi presenter dan broadcaster. Maka dari itu, lomba ini menjadi wadah latihan dan ajang pembelajaran untuk mereka sebelum terjun ke dunia profesional,” ujarnya saat di wawancarai reporter DKTV
Syafira juga menambahkan, perlombaan ini memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk saling belajar. Dengan melihat peserta dari berbagai universitas, mereka bisa memperoleh inspirasi baru serta menilai kemampuan diri secara objektif.
Sistem Penilaian Lomba Presenter
Terkait sistem penilaian, Syafira menjelaskan terdapat beberapa aspek dalam penilaian peserta lomba. Seperti dari penampilan, ekspresi, penguasaan materi, intonasi, hingga artikulasi menjadi komponen utama dalam penilaian peserta.
“Rata-rata peserta tampil sangat baik, sampai saya kesulitan menentukan pemenangnya. Namun saya tekankan, tidak menang bukan berarti buruk hanya perlu sedikit polesan lagi,” jelasnya.
Tak hanya itu, Syfira juga menekankan pentingnya penyesuaian pakaian bagi peserta lomba presenter berita. Menurutnya, busana harus formal, sopan, dan tetap mencerminkan nilai-nilai keislaman sebagai identitas UIN.
Syafira mengungkapkan , ditunjuk menjadi juri merupakan bentuk penghargaan atas keahliannya di bidang keilmuan yang relevan dengan dunia penyiaran. Ia menilai, kepercayaan panitia menjadi bukti pengakuan terhadap kemampuan dalam menilai peserta secara profesional.
Menjadi juri secara langsung, memberikan pengalaman berbeda dibanding menjadi juri sebelumnya yang dilaksanakan secara daring. Ketika lomba offline, ia dapat menilai peserta secara menyeluruh, termasuk ekspresi, bahasa tubuh, dan penampilan keseluruhan secara langsung.
Baca juga: Broadcasting Competition Warnai Semarak Kegiatan HMP KPI UIN IB
Terkait kendala, Syafira menyebut tidak ada hambatan berarti, namun ada beberapa gangguan teknis seperti mikrofon peserta yang sempat bermasalah. Syafira menyarankan agar panitia menyiapkan rencana cadangan agar peserta tidak dirugikan.
Sebagai penutup, Syafira berharap Broadcasting Competition dapat terus berlanjut dan menjangkau wilayah yang lebih luas. “Semoga tahun depan bisa tingkat nasional, bahkan internasional,” Ungkapnya
Reporter: Rahmah Athifah.
