Padang, DKTV– Cuaca ekstrem yang mengguyur Kota Padang dalam beberapa hari terakhir menyebabkan berbagai bencana alam terjadi di sejumlah wilayah. Berbagai titik terdampak banjir, longsor, banjir bandang, pohon tumbang, hingga angin puting beliung, (28/11).
Berdasarkan data sementara BPBD Kota Padang hingga 27 November 2025, tercatat banjir di 14 titik, banjir bandang 12 titik, longsor 7 titik, pohon tumbang 20 titik, serta angin puting beliung di 2 titik.
Klik Untuk Follow Instagram Kaba Kampus
Hingga malam ini, hujan masih terus mengguyur wilayah Kota Padang. BPBD mengimbau seluruh warga agar tetap meningkatkan kewaspadaan dan segera mengevakuasi diri ke lokasi aman apabila kondisi cuaca semakin memburuk.
Bencana banjir tersebar dibeberapa kecamatan seperti Koto Tangah, Padang Utara, Nanggalo, dan Padang Utara. Jalur utama, komplek perumahan, hingga permukiman padat penduduk ikut terendam air dengan ketinggian bervariasi.
Banjir bandang juga dilaporkan terjadi di 12 titik, termasuk kawasan Lambung Bukit, Surau Gadang, Lubuk Begalung, dan Koto Tangah. Beberapa fasilitas umum seperti sekolah dan komplek perumahan turut terdampak derasnya arus.

Peristiwa longsor tercatat pada tujuh titik, salah satunya menimpa kawasan UIN Imam Bonjol Lubuk Minturun. Longsoran tanah membuat akses jalan terganggu dan memicu kerawanan bagi warga yang melintas di area perbukitan.
Sebanyak 20 titik pohon tumbang tersebar pada beberapa kecamatan, termasuk Lubuk Begalung, Padang Selatan, Koto Tangah, hingga Bungus Teluk Kabung. Sejumlah ruas jalan sempat terhambat akibat material pohon.
Baca juga: Aksi Sigap Relawan, Untuk Kemanusiaan di Koto Tangah
Sementara itu, dua kejadian angin puting beliung juga terjadi sekitar wilayah Koto Tangah dan Lubuk Begalung. Kejadian tersebut menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan dan meningkatkan kekhawatiran masyarakat.
BPBD Kota Padang terus melakukan pemantauan dan pendataan lanjutan di lapangan. Warga diminta selalu memantau informasi resmi serta menjaga keselamatan diri, mengingat kondisi cuaca ekstrem diperkirakan masih berlanjut.
Reporter: Srimega Hayatulnupus
